Pentingnya Aklimatisasi Saat Akan Melakukan Pendakian Gunung Yang Tinggi

Pentingnya Aklimatisasi Saat Akan Melakukan Pendakian Gunung Yang TinggiPentingnya Aklimatisasi Saat Akan Melakukan Pendakian Gunung Yang Tinggi – Apa kabar penikmat ketinggian? Pada kesempatan kali ini akan membahas pentingnya aklimatisasi saat akan melakukan pendakian gunung yang tinggi.

Apakah Anda sudah pernah mendengar istilah Aklimatisasi? Pada pendakian gunung, Konteks aklimatisasi ini adalah penyusaian tubuh terhadap ketinggian tertentu. Pada intinya, Aklimatisasi ini adalah suatu upaya untuk menyesuaikan kondisi fisiologis atau bisa dikatakan adaptasi dari suatu organisme terhadap lingkungan yang baru.

Walaupun kita tidak menggunakan proses Aklimatisasi ini dan mungkin belum mengetahuinya, tidak ada salahnya kita mengetahui dan mengenal Aklimatisasi.

Jadi proses Aklimatisasi ini sangat penting dilakukan para pendaki gunung tertinggi kelas dunia. Seperti pendaki Gunung Everest, Kilimanjaro, Aconcagua, dan masih banyak lagi.  dan yang tertinggi di Indonesia adalah Gunung Cartenz Pyramid.

Tidak mungkin para pendaki gunung kelas dunia itu mendaki begitu saja tanpa adanya latihan dan Proses Aklimatisasi. Nah, berikut akan saya share tentang cara dan bagaimana proses aklimatisasi ini berlangsung, dari sumber National Geograpic Indonesia.

Pada Tahun 2013 lalu, Pemuda Indonesia yang bernama Regi Kayong Munggaran, Nuhu Nugraha, dan Sofyan Arief Fesa mencoba menggapai Gunung Ama Dablam (Nepal) yang mempunyai ketinggian 6.812 Mdpl. Mereka melakukan proses Aklimatisasi yang pertama di  Namche Bazaar (3.440 Mdpl) di sebuah desa padat penduduk saat musim pendakian.

Setelah mereka menghabiskan waktu minimal sehari di Namche Bazaar, pemberhentian selanjutnya wajib mereka lakukan di Tyangboche yakni di ketinggian (3.867 Mdpl). Berada di desa yang lebih kecil ini, mereka para pendaki harus menghabiskan sisa waktu satu malam sebelum bergerak kembali ke desa terakhir yaitu Pangboche (3.860).

Nah, dari sinilah Base Camp Ama Dablam yang memiliki ketinggian 4.600 Mdpl bisa untuk dicapai untuk tahap selanjutnya.

Sofyan sebagai salah satu tim pendaki Bandung Juara Amadablam Expedition 2013 menjelaskan tahap tahap Aklimatisasi di camp induk. Mulai pembiasaan dengan crampon atau lebih dikenal  sepatu salju, sekaligus memakai pelatihan dengan kapak es serta praktik bagaimana penyelamatan diri sendiri.

Selain itu juga latihan naik turun dengan menggunakan tali (ascending-descending) di bebatuan yang tinggi di sekitaran camp, itu ia lakukan selama beberapa hari.

Tahap selanjutnya, para pendaki akan bolak balik menuju High Camp (4.900 mdpl), Camp 1 (5.639 mdpl), dan Camp 2 (5.944 mdpl). Mereka akan mampir di tempat-tempat ini secara bertahap, lalu menginap semalam di masing-masing kemah sebelum kembali lagi menuju kemah induk.

Rencananya, summit attack akan dilakukan dari Camp 2, menunggu kondisi keadaan salju yang meninggi akibat Siklon Phailin sebelumnya. Aklimatisasi wajib dilakukan oleh para pendaki, agar tubuh terbiasa dengan oksigen yang semakin menipis akibat meningkatnya ketinggian. Sofyan melaporkan, ketinggian salju di kemah mencapai hampir selutut dengan suhu minus delapan derajat Celsius.

Nah, apa yang Anda tangkap tentang peristiwa pemuda tanah air kita tercinta ini saat melakukan pendakian Gunung Ama Dablam? Ya, begitulah kira kira proses Aklimatisasi.

Jadi jangan berfikiran tentang aklimatisasi itu adalah tentang istirahat dan tidur saja, proses penyesuaian tersebut tidak akan berjalan tanpa aktifitas selama di camp. Pendaki justru harus melakukan kegiatan aktif. Begitulah kira kira sedikit pengetahuan tentang pentingnya Aklimatisasi saat akan mendaki pegunungan tinggi.

Jika Anda mempunyai keinginan untuk mendaki gunung salah satu Seven Summit Of The World, proses Aklimatisasi ini wajib untuk dilakukan. Walaupun juga tidak sedikit yang sudah melakukan, tetap nyawa menghilang karena kondisi yang lain. Teruslah berpetualang, agar kita tahu siapa diri kita yang sebenarnya. salam lestari!